Envy vs grateful
Semenjak pandemi covid-19, saya menjadi lebih sering membuka media sosial, seperti youtube dan instagram. Awalnya hanya sekedar supaya tahu keadaan orang-orang yang saya kenal, tetap terhubung dengan mereka dan juga untuk menghibur diri.
Tapi makin kesini, karena keseringan menonton vlog mendekor rumah di youtube, timbullah rasa iri.
Jujur saya akui, saya pernah menjual satu-satunya rumah milik saya dan suami dikarenakan satu hal yang mendesak. Setelahnya, saya tinggal di rumah peninggalan orangtua saya dan kemudian saat ini menetap di rumah mertua.
Kehilangan sesuatu yang berharga buat saya pribadi, yaitu rumah, membuat saya sangat rindu memiliki kembali rumah sendiri. Saya ingin sekali menyediakan rumah untuk anak-anak saya, dimana mereka bisa bebas berekspresi dan merasa nyaman.
Jadi saat menonton vlog orang tentang mendekor rumah, saya merasa tertinggal. Dari situ muncullah rasa iri dan malu. Lalu mulailah, saya berandai-andai. Jika ini begini atau jika begitu.
Saya sadar bahwa hal tersebut membuat saya menjadi negatif. Jadi secepatnya, saya meng-cut perasaan iri tersebut dengan cara bersyukur. Tidak mudah memang, apalagi dengan adanya masalah yang timbul setelah tinggal di rumah mertua. Tapi saya berusaha untuk mensyukuri apa yang Tuhan beri sampai saat ini.
Bersyukur di saat pandemi seperti ini, suami masih punya pekerjaan walau penghasilannya menurun.
Bersyukur kalau sampai detik ini, keluarga kami diberi kesehatan.
Bersyukur masih ada rumah tempat kami bernaung.
Bersyukur kalau saya masih diberi waktu untuk belajar mensyukuri apa yang Tuhan beri untuk saya.
Saya juga belajar merubah mindset saya tentang arti rumah. Saya mengatakan pada diri saya bahwa saya adalah rumah itu sendiri.
I AM A HOME FOR MY HUSBAND AND MY CHILDREN.
HOME IS NOT A BUILDING, BUT A FEELING OF BEING LOVED, WANTED AND COMFORTABLE. WHERE ONE CAN BE HIMSELF AND HAVE A PLACE TO RETURN TO.
Komentar
Posting Komentar